Stop Film Perusak Akidah

Posted on 19.04.2011

0


disadur dari suara-islam.com
oleh Shodiq Ramadhan

Pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Tentu, umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Karena itu, kerukunan dan toleransi umat beragama itu tidak boleh bercampuraduk dengan keyakinan agama lain.

Masih segar dalam ingatan, ketika Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI) yang kala itu diketuai oleh KH. A Cholil Ridwan Lc, pernah mendesak pemerintah melalui Lembaga Sensor Film (LSF) dan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) untuk mencabut film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS) dari peredaran. Mengingat film tersebut membuat pencitraan buruk tentang pesantren, disamping bermuatan sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme).

Ada beberapa rekomendasi Ijtima’ Nasional yang dihasilkan BKsPPI di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, salah satunya adalah memohon kepada pemerintah melalui Lembaga Sensor Film (LSF) dan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) untuk mencabut film “Perempuan Berkalung Sorban” dari peredaran, mengingat film tersebut memfitnah pesantren.

Kali ini, Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya, KH. A Cholil Ridwan kembali menyerukan kepada pemerintah agar film terbaru berjudul ”?” (tanda tanya) yang disutradarai Hanung Bramantyo, untuk segera ditarik dari peredarannya, mengingat film itu menyebarkan faham pluralisme yang telah difatwakan haram oleh Pimpinan Pusan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Film Hanung dinilai telah melontarkan bola panas yang melecehkan Islam. Hal itu bisa dilihat pada beberapa adegan film yang mengesankan bahwa toleransi dengan seenaknya dipintir dengan penafsiran ngawur, seperti menjadi murtad pun dianggak hak yang paling asasi.

Sebagai ulama, tentu saja Kyai Cholil punya tanggungjawab untuk meluruskan umat Islam yang mulai melenceng dan menjurus pada pemikiran dan pemahaman yang salah dan menyesatkan. Toleransi beragama tentu harus dikembangkan, selama tidak mencampuradukkan keyakinan dan ritual agama lain. Jangan sampai, kedok toleransi, justru mengorbankan akidah dan keyakinan umat Islam itu sendiri.

Dalam QS. Al Kafirun telah jelas pembatas makna dari sebuah prinsip toleransi. Lakum dinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Tidak bisa dicampur-campur. Islam hanya membenarkan sisi sosiologis atau batas kemanusiaan, ketika harus bertoleransi. Jika masing-masing umat beragama saling memahami prinsip ini, dunia pasti dipenuhi dengan kedamaian.

Berikut wawancara khusus, Adhes Satria dari Suara Islam dengan Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya KH. Cholil Ridwan, Lc yang dijumpai usai nonton bareng di Bioskop Jakarta Teater, Jakarta, saat launcing film perdana berjudul ”?” garapan Hanung Bramantyo yang dihadiri oleh para undangan. Diantaranya terlihat: Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, Menteri Kebudayaan & Parawisata Jero Wacik dan Ketua DPR Anis Matta.

Bagaimana kesan Kyai setelah menonton Film ”?” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo?

Saya memang mendapat undangan menonton dalam kapasitas saya sebagai Ketua MUI bidang budaya. Tentu saja, saya ingin tahu lebih jauh film yang sebelumnya sudah saya lihat cuplikan trillernya di You Tube. Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluraslisme agama yang sangat menyengat dalam film ini.

Padahal pluraslime agama yang dipesankan dalam film itu, adalah pluralisme teologi yang sudah difatwakan oleh MUI sebagai paham yang haram. Bila umat Islam mengikuti paham itu, maka menjadi murtad atau keluar dari Islam, dan statusnya menjadi kafir.

Bukti film Hanung menyebarkan paham pluralisme agama yang telah difatwakan sebagai faham yang salah dan haram bagi umat Islam bisa dilihat dalam narasi awal film ini: ”…semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”

Jadi Kyai melihat bahwa film Hanung itu merupakan propaganda yang mengkampanyekan pluralisme agama, begitu?

Perlu saya jelaskan, bahwa pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya.

Dalam ajaran Islam ada prinsip, kerukunan itu berjalan tapi keimanan terjamin. Saya menilai, film ini sangat vulgar, sangat kasar, dan sangat melukai hati umat Islam yang menontonnya, terutama yang memiliki akidah tauhid yang benar. Film ini jelas sangat sesat menyesatkan umat.

Adegan mana saja yang Kyai nilai terdapat muatan kesesatannya?

Sebagai contoh, seorang muslimah yang awalnya beragama Islam kemudian memilih murtad dan menganggap wajar dengan pilihannya memilih agama lain. Ada ungkapan dalam film itu: “Saya tidak mengkhinati Tuhan. Saya keluar dari agama bukan berarti membenci Tuhan.”

Dalam adegan lain, misalnya, seorang Muslimah berkerudung bernama Menuk merasa nyaman bekerja di sebuah rumah makan (restoran Cina) yang menghindangkan daging babi – makanan yang diharamkan oleh Islam. Toleransi ala Hanung ingin mengesankan, bahwa muslimah yang diperankan oleh Revalina S Temat adalah muslimah yang ideal, yang bisa menghargai sebuah perbedaan. Meski tidak sampai memakannya, tidak terlihat kegalauan hatinya, seolah daging babi bukan sesuatu yang diharamkan.

Adegan apalagi yang dianggap terlalu atau dinilai kontroversi?

Misalnya, adegan ketika Surya (diperankan Agus Kuncoro), seorang pemuda Muslim bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dengan memerankan sebagai Yesus Kristus. Mulanya hatinya galau, tapi setelah berkonsultasi pada seorang ustadz muda (diperankan oleh David Khalik), ditemukan jawaban yang amat sesat menyesatkan. Katanya, bahwa untuk menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati. Maka masuk gereja, bahkan memerankan aktor sebagai Yesus sekalipun bukan sesuatu yang subhat dan diharamkan. Bagi Hanung, hal itu tak perlu dipersoalkan.

Anehnya lagi, usai memerankan Yesus, pemuda muslim tadi melafadzkan QS. Al Ikhlas (Qul huwallohu ahad). Hanung ingin menggambarkan, memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang. Kesalehan dan keimanan Islam itu tetap terjaga, meski mencampuraduk keyakinan dengan mengikuti ritual agama lain (Nasrani). Sangat aneh, pemuda islam seperti Surya malah memakmurkan gereja, bukan memakmurkan masjid, tempat dimana ia bekerja sebagai marbot.

Inilah kampanye pluralisme yang diusung Hanung. Kok bisa, QS Al Ikhlas yang menegaskan bahwa Dia (Allah Swt) Tuhan yang Maha Esa. Tuhan yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tapi oleh Hanung, ditafsirkan secara serampangan dengan kacamata pluralis, yang membenarkan Yesus sebagai anak Tuhan. Setidaknya Hanung menghantarkan seorang Muslim menjadi munafik, bahkan musyrik. Padahal dalam Islam, musyrik adalah dosa besar yang tidak terampuni, kecuali bertobat.

Dalam film itu, ada seorang ustadz muda (diperankan David Khalik) yang membolehkan seorang Muslim masuk gereja dan memerankan Yesus dengan alasan keimanan adalah soal hati. Komentar Kyai?

Itu ngawur dan menyesatkan. Satu hal, tidak mungkin setiap agama menghilangkan klaim pada keyakinannya. Tidak bisa seorang muslim seenaknya, di masjid melafalkan QS Al Ikhlas, tapi disisi lain memerankan Yesus di sebuah gereja pada hari Pasca dan kegiatan kebaktian Nasrani lainnya. Toleransi sebetulnya cukup dengan menghormati umat agama lain, bukan mencampuradukkan keyakinan.

Jelas sekali dalam ajaran Islam, ada tauhid ada syirik, ada iman ada kufur. Nah, batas-batas itulah yang seharusnya dipegang. Jika produser, penulis, sutradara, pemain itu seorang muslim, seharusnya dia menjaga batas-batas keimanan dan akidahnya, yakni kapan dia mempertahankan konsep keyakinannya dan kapan rukun dengan orang lain yang tidak seagama. Film ini jelas melampaui batas dan merugikan kerukunan umat beragama itu sendiri

Jadi Kyai menilai kesesatan dalam film itu betul-betul nyata?

Iya. Pokok dari film ini adalah penyebaran ajaran pluralisme yang menyamakan semua agama. Dalam paham pluralisme, ada keyakinan, bahwa di ahirat nanti, semua orang yang beragama akan masuk surga. Di surga nanti telah disediakan kamar-kamarnya. Jelas, ini pemahaman agama yang sesat dan menyesatkan.

Jelas sekali, film ini sangat berbahaya. Sebagai Ketua MUI bidang budaya, saya menganjurkan agar umat Islam tidak menonton film ” ? ” ini, karena dikhawatirkan umat Islam bisa tersesatkan. Jika film ini berjudul “?” (tanda tanya), maka saya juga ingin bertanya, mau dibawa kemana penonton ini. Apakah orang yang tidak punya agama sekalipun bisa dibenarkan. Pluralisme agama inilah yang dikampanyekan oleh Hanung.

Hanung sepertinya mengemas film ini dengan bungkus toleransi beragama. Bagaimana Kyai melihatnya?

Sangat disayangkan, jika film pluralisme ini terbungkus toleransi agama. Ini paham yang keliru. Karena toleransi beraama tidak sampai mengorbankan keyakinannya. Nabi Muhammad saw saja tidak pernah membenarkan secara akidah agama Yahudi dan Nasrani. QS Al Kafirun sudah menjelaskan. Bahkan di QS al Bayyinah, Alloh swt menegaskan, bahwa orang kafir kelak akan masuk ke dalam neraka Jahannam.

Saya pribadi sangat menyayangkan, kenapa banyak penonton yang tepuk tangan, padahal jelas-jelas film itu sangat melukai umat Islam. Sekali lagi, saya tegaskan, film ini lebih berbahaya dari Perempuan Berkalung Surban. Ini arahnya pluralisme agama, yang ujung-ujung nanti, tidak beragama pun dianggap sah-sah saja.

Seperti diketahui, masyarakat Muslim kita sangat haus dengan film religius. Ketika masyarakat tidak bisa mencerna film yang dikiranya religius, apa yang dikhawatirkan?

Cara pandang Hanung yang pluralisme menunjukkan, pembuat film ini berdiri pada perspektif bukan sebagai seorang Muslim, tetapi sebagai seorang yang netral agama, yang memandang semua agama adalah menyembah tuhan yang sama. Dalam pandangan kaum seperti ini, tidak ada konsep tauhid dan syirik atau mukmin dan kafir, karena semua agama dipandang sama-sama merupakan jalan yang sah. Menuju tuhan yang sama.

Sejak awal diutusnya Nabi Muhammad Saw, sudah ditegaskan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Saat Rasulullah saw diutus, sudah ada orang-orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan kaum musyrik Arab. Namun, Nabi Muhammmad menyeru kepada mereka agar kembali pada satu prinsip yang sama (kalimatun sawa’), yaitu prinsip tauhid, yaitu hanya menyembah Allah semata.

Bisa dijelakan, apa konsekuensi seorang Muslim yang mencampuradukkan keyakinan agama lain yang katanya sebagai bentuk dari ajaran pluralisme?

Dalam Al Qur’an dengan tegas menyatakan, Allah Swt murka terhadap orang-orang yang menuduh Allah punya anak. Coba perhatikan firman Allah di dalam QS. Maryam ayat 88-91: ”Dan mereka berkata, ”(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Sungguh, kamu tekah membawa sesuatu (perkataan) yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu), karena menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.”

Orang yang menyatakan, bahwa Allah adalah salah satu dari ”Yang Tiga” juga dikatakan kafir. Simak QS. Al-Maidah ayat 73-74: “Sungguh telah kafir, orang yang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang kafir diantara mereka akan ditimpa azab yang pedih. Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Apa peringatan Allah selanjutnya kepada umat yang membenarkan Yesus sebagai “God”?

Di dalam Al Qur’an juga dikatakan, bahwa Nabi Isa as menyatakan dirinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan bukan Tuhan atau anak Tuhan. Buka QS As-Shaff ayat 6: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: “Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang bernama Ahmad (Muhammad).” Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Oleh sebab itu, sangat aneh, jika seorang yang mengaku beragama Islam, tetapi melihat agama-agama lain, selain Allah, bukan dari kacamata Al Qur’an, tetapi dari kacamata netral agama. Dalam konsep dasar Islam, Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah Swt sebagai nabi terakhir, untuk mengajak manusia kepada tauhid dan menyembah Allah yang Maha Tunggal dan mengakui nabi Muhammad saw sebagai utusan bagi semua manusia di semua zaman.

Artinya, film ini bisa menghantarkan umat Islam pada pemurtadan?

Benar. Film ini jelas mencampuradukkan dan mengacaukan konsep ”toleransi” atau ”kerukunan” dengan konsep pluralisme dalam hal teologis. Toleransi tetap bisa terjalin, tanpa harus mengorbankan keyakinan keagamaan masing-masing. Dengan kata lain, kerukunan beragama dapat tetap terwujud, dimana masing-masing pemeluk agama tetap dengan klaim kebenarannya.

Saya menyarankan agar Hanung belajar dulu tentang Islam yang benar, agar tidak sesat dan menyesatkan. Jangan berlagak sok tahu. Saya menyerukan agar film ini segera ditarik dari peredaran.

Posted in: Islam