Transendentalisme: Kritik Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Posted on 26.04.2011

0


disadur dari insistnet.com
oleh : Adnin Armas

Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas tercatat sebagai salah satu pengkritik yang tajam terhadap gagasan Transentalisme (Trancendent Unity of Religions). Bahwa, seolah-olah semua agama memiliki titik temu pada level transenden. Agama-agama hanya berbeda pada level eksoterik dan akan bertemu pada level esoterik. Intelektual Muslim yang menjadi keynote speaker dalam Konferensi Pendidikan Islam Pertama di Mekkah, 1977, ini tidak asing dengan gagasan titik-temu metafisik agama-agama.

Al-Attas – selain menguasai banyak literatur tentang wacana titik-temu antar agama — juga mengenal secara personal tokoh-tokoh transendentalis seperti Frithjof Schuon, Martin Lings, Seyyed Hossein Nasr dan lainnya. Mereka sebenarnya saling kenal. Bahkan Seyyed Hossein Nasr pernah mengunjunginya di ISTAC, Kuala Lumpur, suatu lembaga pendidikan PascaSarjana dalam bidang pemikiran dan peradaban Islam, yang didirikan oleh al-Attas.

Inti argumentasi kalangan transendantalisme atau perenialisme sebenarnya berkutat pada pembagian dua dimensi agama, yaitu dimensi esoteris (batin) dan eksoteris (luar). Bagi pendukung teori ini, dimensi esoteris dianggap lebih tinggi dibanding dimensi eksoteris. Istilah esoteris dimaknai sebagai pemahaman Tuhan pada tingkat Esensi. Maksudnya, Tuhan dipersepsikan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna.
Pada tingkat esoteris inilah, kalangan transendentalis menganggap agama-agama menyatu. Dalam pandangan mereka, tingkat esoteris ini dapat diketahui melalui Intelek. Bagi kalangan transendentalis, semua agama bersatu untuk mengakui Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna.

Al-Attas mengkritik puncak argumentasi kalangan transendentalis, yaitu konsepsi esoteris. Kritiknya yang tajam, padat dan lugas dapat dibaca dalam magnum opusnya, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995).

Menurut Syed Naquib al-Attas, konsep Tuhan pada level esoteris seperti anggapan kalangan transendentalis, adalah konsep yang keliru. Pengakuan akan adanya Tuhan saja tidak cukup. Sebabnya, Iblis juga mengakui Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Jadi, memahami Tuhan hanya sebagai Esensi (Tuhan sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna), masih bisa sesat.

Konsep Tuhan dalam Islam bukan hanya mengakui-Nya sebagai satu-satunya Realitas Akhir, Yang Mutlak, Yang Tidak Terbatas dan Maha Sempurna. Namun, menurut Islam, pengakuan terhadap-Nya harus juga diikuti sekaligus dengan pengakuan untuk tidak tidak menyekutukan-Nya dan tunduk kepada-Nya dengan cara, metode, jalan dan bentuk yang dipersetujui oleh-Nya seperti yang ditunjukkan oleh para rasul yang telah di utus-Nya.

Jika hanya mengakui Tuhan, tetapi mengingkari cara, metode, jalan dan bentuk yang diajarkan oleh Tuhan melalui nabi-Nya, maka seseorang itu akan disebut kafir. Orang seperti ini tidak benar-benar berserah diri kepada-Nya.

Iblis juga mempercayai Tuhan yang satu, mengakui-Nya sebagai pencipta alam semesta, dalam al-Quran, ia masih di sebut kafir. Itu disebabkan pengingkaran kepada perintah-Nya. Jadi, memahami dan mengakui Tuhan, harus dengan mengikuti perintah, bentuk cara, jalan-Nya. Bahkan, hanya dengan melalui perintah, bentuk cara, jalan-Nya maka Kebenaran akan diketahui. Jadi, kalangan transendentalis keliru ketika menganggap dimensi eksoteris “lebih rendah” dari esoteris. Sebabnya, dimensi eksoteris justru merupakan penentu terhadap kebenaran esoteric.

Menurut al-Attas, gagasan titik-temu metafisis agama-agama merupakan produk dari pengalaman keagamaan para tokoh transendentalis. Sebagaimana diketahui, Frithjof Schuon adalah Maha Guru bagi kalangan transendentalis. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin tarekat al-Maryamiyah, sebuah tarekat rahasia untuk kalangan transendentalis. Konsep titik-temu esoteris agama-agama adalah produk dari pengalaman Sang Guru ketika terlibat dalam kehidupan agama-agama, termasuk ketika aktif dalam Freemason.

Al-Attas juga mengingatkan, bahwa jika “tansenden” dimaksudkan sebagai pengalaman keagamaan (religious experience) yang hanya dicapai oleh beberapa manusia saja, maka pengalaman keagamaan itu bukanlah agama itu sendiri. Pengalaman keagamaan semacam itu, menurut mereka, tidak dapat terjadi pada masyarakat dan seluruh manusia, namun hanya diraih oleh elite tertentu dalam setiap agama. Jadi, yang dimaksudkan adalah titik-temu pada pengalaman keagamaan (transcendent unity of religious experiences). Pengalaman keagamaan ini sangat tidak tepat jika dianggap sebagai akidah kaum Muslimin. Lebih jauh al-Attas mengingatkan: “If ‘transcendent’ is meant to refer to a psychological conditions at the level of experience and consciousness which ‘excels’ or ‘surpasses’ that of the masses among mankind, then the ‘unity’ that is experienced and made conscious of at the level of transcendence is not of religions, but of religious experience and consciousness, which is arrived at by the relatively few individuals only among mankind.”

Jadi, simpul Syed Muhammad Naquib al-Attas, gagasan para tokoh transendentalis tentang titik temu agama-agama pada level esoteris adalah ‘melampaui’ tingkatan pengalaman keagamaan masyarakat umum. Ini jelas bukan maksud agama yang diturunkan untuk semua manusia. Agama Islam adalah bukan hanya untuk elite tertentu, namun untuk keseluruhan umat.

Ringkasnya, gagasan titik-temu metafisika agama-agama adalah teori – yang meskipun terkesan ilmiah – tetapi keliru. Gagasan ini muncul dari hasil imajinasi dan spekulasi intelektual dan bukan berdasarkan pada fakta. “Their claim to belief in the transcendent unity of religions is something suggested to them inductively by the imagination and is derived from intellectual speculation and not from actual experience.” (****)

Posted in: Peradaban Islam