Ummatan Wasatan

Posted on 21.09.2012

0


disadur dari: insistnet.com
oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi

“Ummatan wasatan” adalah julukan (epitheet, stigma) Allah untuk umat Islam. (QS. 1: 143). Julukan lainnya adalah sebaik-baik umat (khayra ummah) (QS. 3:110). Nabi Ibrahim dan Ismail juga berdoa agar keturunannya menjadi ummatan muslimatan (QS. 1:128), artinya umat yang tunduk kepada Allah. Itulah diantara julukan untuk ummat Islam

Wasat secara etimologis berarti tengah yaitu posisi antara dua sisi. Wasat juga digunakan untuk menengahi antara dua ekstrim yang berarti adil. Secara semantik makna wasat dalam al-Qur’an ada dua pertama sederhana (QS. 1:238 dan QS. 5: 89), dan kedua kebaikan, kelebihan dan keutamaan (QS.68:28). Artinya, Islam adalah agama yang sederhana yang menekankan pada kebaikan dan keutamaan perilaku ummatnya.

Sayyid Qutub Ummat mengartikan wasatan dalam aqidah sebagai tidak berlebihan dalam menggapai aspek ruhani dan juga materi. Dalam pemikiran dan perasaan artinya tidak kaku dalam hal ilmu sehingga menutup pintu-pintu pengalaman dan pengetahuan. Juga tidak hanya membeo apa saja yang dianggap benar. Dalam aspek hubungan sosial ummat wasatan berarti tidak lupa dengan kepribadian seseorang. Pribadinya tidak lebur dalam jamaah atau Negara dan tidak juga lepas bebas dari jamaah. Dari pandangan seorang Sayyid Qutub saja maka makna makna wasat dalam al-Qur’an tidak tertampung dalam istilah “moderat”.

Kualitas umat Islam yang bersifat “wasatan” bukan tanpa tujuan. Lanjutan dari al-Baqarah ayat 143 itu jelas. Kualitas ini diciptakan umat Islam menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) umat Islam. Artinya kualitas umat yang adil adalah tolok ukur untuk menentukan apakah seseorang atau suatu kaum itu menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

Namun, kini zamannya adalah zaman stigmatisasi. Julukan ummat yang baik ini mengalami distorsi makna dengan masuknya makna asing “moderat”. Meski moderat adalah istilah positif, namun di zaman postmodern ini ia bisa berarti negatif.

“Jadilah Muslim yang moderat” seakan menjadi sebuah instruksi penguasa dunia. Agar Muslim bergegas mengikuti perintah diciptakan istilah “Muslim fundamentalis”. Istilah aneh yang diadopsi dari label orang Kristen di Barat yang beragama secara ekstrim dan mementingkan makna-makna Kitab suci secara literal. Di belakang stigma moderat masih berjejer antri stigma lain, yaitu eksklusif (dari tradisi Kristen di Barat), intoleran, literalis atau tekstualis. Istilah ini lalu dibumbui dengan stigma lain seperti ekstrimis, fanatik, radikal, jihadis, Islamis dan ujung-ujungnya adalah teroris. Padahal dalam bahasa Islam fundamentalis adalah “usuli” dan perintah itu berarti “jangan berislam secara mendasar”.

Untuk menjadi Muslim moderat orang harus dibebaskan dari stigma-stigma di atas. Tapi anehnya bebas dari stigma itu Muslim seperti kehilangan sarung dan songkok hajinya. Muslim moderat dalam pandangan Angel Rabasa dan Cheryl Bernard adalah yang liberal, progressif, pluralis, feminis, demokratis dan bahkan anti-syariah. Muslim yang tidak setuju dengan LGBT tidak moderat. Yang masih merasa agamanya paling benar tidak moderat. Yang setuju dengan nikah beda agama adalah Muslim moderat. Yang diam saja ketika Nabinya dihina dan Qur’annya dibakar adalah moderat.

Namun, yang memahami konsep ummat secara luas akan faham. Ummat wasatan tidak bisa lepas pula dari karakter lain umat Islam yaitu ummatan muslimatan dan khayra ummah yang tugasnya adalah ber amar ma’ruf nahi munkar (QS. 3:104). Maka kualitas ummatan wasatan memerlukan suatu kualitas preseden yang ada pada umat Muslim dan umat terbaik.

Ummat terbaik tidak lepas dari individu terbaik. Kriteria utama individu terbaik adalah ilmu dan implikasi orang berilmu adalah adil dan beradab. Di sini secara semantik makna wasatan bertemu dengan makna semantik ilmu dan adab. Maka dari itu peradaban yang dihasilkan oleh ummatan wasatan adalah peradaban ilmu.

Posted in: Peradaban Islam