Faith without Religion

Posted on 04.12.2012

0


disadur dari: inpasonline.com
oleh: Kholili Hasib

Spirituality yes, organized religion no!” Manusia bisa menjadi orang baik dan meraih spiritualisme tanpa harus beragama. Kalimat tersebut meluncur dari futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdene untuk menggambarkan masa depan kehidupan agama orang Barat secara khusus dan manusia sedunia secara umum.

Di Barat, sudah lama terjadi tren baru dalam beragama yaitu, “faith without religion”. Mereka percaya adanya Tuhan, tapi tanpa beragama. Mereka mengaku ‘kaum beriman’. Yang aneh, menyatakan diri ‘beriman’, tapi pada saat yang sama ‘melawan hukum Tuhan’. Inilah yang disebut ateis modern.

Kalimat tersebut mirip dengan orasi kaum Muslim liberal, “Saya berislam, tapi saya tidak percaya hukum Tuhan”. Sekularisme telah memakan korban kaum intelektual Muslim. Kata ‘Islam’ telah disekulerkan. Bahwa Islam itu cukup dengan ‘berpasrah kepada yang namanya Tuhan’. Terserah ‘Tuhan’ apa saja, tidak harus Allah swt.

Padahal, berislam secara kaffah itu melibatkan tiga komponen; Iman, Syariat, dan Ihsan. Beriman, tanpa bersyariat, sama dengan munafik. Ber-syariat tanpa beriman, mirip orang zindiq. Ketiganya tidak boleh dikotak-kotak. Harus diamalkan bersama-sama. Inilah agama Islam.

Jika Islam disekulerkan, maka otoritas Tuhan yang mutlak dinafikan, dipinggirkan bahkan dicemooh. Sebagai gantinya, kesepakatan manusia yang menjadi otoritas tinggi. Bahkan akal manusia menjadi ‘Tuhan’ baru, yang kadang-kadang secara ‘malu-malu’ dimutlakkan. Ludwig Feurbach pernah menggambarkan sekularisasi ini, “God is man, man is God”.

Padahal akal manusia berbeda-beda. Potensi dan kekuatan juga tidak sama. Maka pertanyaannya, akal yang mana yang berhak menentukan kebenaran? Jika dikembalikan kepada individu, tentu akal satu dengan lainnya bisa saling bertabrakan. Kalau dikatakan akal individu menjadi standar kebenaran, maka pernyataan ini dengan sendirinya tidak masuk akal. Sebab, kekuatan akal berbeda-beda. Apa ukuran bahwa akal si fulan lebih kuat dari akal orang lain?

Dalam Islam, akal harus dibimbing oleh wahyu karena rasio manusia terbatas, tidak mutlak, dan perlu petunjuk dari agama. Dengan bimbingan wahyu, akal manusia berfungsi dengan baik, mampu membedakan yang baik dan buruk, halal dan haram. Maka yang didahulukan adalah wahyu, bukan rasio. Kekurangan yang ada dalam rasio manusia bisa dilengkapi dengan bimbingan wahyu.

Sesungguhnya di balik kalimat “faith without religion” adalah membenci agama. Rene Descartes, pernah mengejek orang religius. Menurutnya, orang yang dungu adalah orang yang terlalu tunduk patuh secara total kepada agama. Perlu dicatat, ini tidak pernah berlaku dalam Islam. Ejekan Descartes ini memang ditujukan kepada orang Kristen. Dan kenyataannya memang filsuf dan teolog Kristen tidak pernah akur.

Di dunia Islam, cendekiawan, ulama’ dan filsuf cukup mudah ditemukan dalam satu profil ulama’ salaf. Fakhruddin al-Razi dikenal sebagai mufassir yang ahli kedokteran dan dokter yang mufassir serta fakih yang filsuf. Dalam sejarah teolog Kristen, profil ini tidak ditemukan. Taat beragama, dan ahli ilmu pengetahuan dalam Islam itu suatu keharusan. Tapi di dunia Kristen Barat hal itu mustahil.

Maka, bagi mereka lebih baik menyembah sains daripada menyembah kitab suci. Dari tren beragama ini lahirlah relativisme beragama. Gejala ini seiring dengan mengglobalnya sekularisasi di dunia. Di antara ciri-cirinya adalah; pertama, keyakinan bahwa kebenaran itu tidak ada. Tidak ada standar moral yang bisa dipegang bersama-sama. Paham ini juga bisa disebut nihilisme, anti nilai.

Kedua, berpendapat bahwa agama adalah mutlak tapi pemikiran keagamaan adalah relatif. Jangan mensucikan pemikiran keagamaan. Tafsir adalah produk akal manusia sehingga tidak bisa mutlak semutlak wahyu. Kedengarannya bagus, tapi menjebak kepada kesesatan. Paham ini sejatinya menggiring kepada paham bahwa tidak ada lagi suatu kebenaran yang bisa diterima semua pihak, baik itu ijma’ ulama’, konsensus Sahabat dan fatwa ulama’.

Manusia memang makhluk ‘relatif’, bukan berarti manusia tidak bisa menerima kebenaran mutlak. Kita bisa mengatakan hukum mutlak berdasarkan wahyu, yang diajarkan Nabi saw yang turun dari Allah swt yang mutlak. Makanya Allah mengatakan, “Kebenaran (al-haq) itu dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang yang ragu”. Artinya kebenaran mutlak itu dari Tuhan, manusia bisa mengetahuinya melalui wahyu.

Logika “faith without religion” itu destruktif sekaligus naïf. Inilah proyek destruksi agama. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa semua ayat al-Qur’an itu zhanni, dan membubarkan syariat Islam. Cara pandang demikian juga naïf. Ketika seseorang menyatakan bahwa semua pemikiran manusia itu relatif dan parsial kontekstual, maka ucapan tersebut itu sendiri merupakan hal yang relatif dan tidak perlu dijadikan pedoman. Jika dia menolak, maka dia memutlakkan ucapannya sendiri. Pantas saja kata Ernest Gellner, relativisme itu inkonsisten.

Jadi, sekularisme dan relativisme itu ‘bersahabat’ merusak nilai moral Islam. Para pengasongnya tidak menyadari kekurangan rasionya bahwa ia -kata Gellner- inkonsisten. Seperti dikatakan oleh Imam al-Ghazali, orang bodoh adalah orang yang tidak tahu bahwa ia tidak tahu (rojulun laa yadri annahu la yadri).

Posted in: Islam