Fiqih Lintas Agama

Posted on 12.12.2012

0


disadur dari: http://pemikiranislam.net/

oleh: Nashruddin Syarief

Fiqih yang satu ini merupakan program liberalisasi hukum Islam dari kalangan muslim liberal di Indonesia demi mewujudkan masyarakat yang pluralis. Dari sejak dipopulerkan oleh Nurcholish Madjid pada 2003 melalui buku Fiqih Lintas Agama, sampai hari ini, fiqih yang satu ini tidak henti-hentinya dikampanyekan.

Di antaranya bisa dilihat dari buku Budhy Munawar-Rachman, Islam dan Liberalisme yang diterbitkan pada Agustus 2011. Sebelumnya, dalam buku Argumen Islam untuk Pluralisme yang terbit Januari 2010, Budhy juga menyinggung urgensi fiqih yang satu ini demi mewujudkan masyarakat yang adil dan demokratis.

Dasar fiqih ini bukan aqidah Islam, melainkan teologi inklusif-pluralis. Teologi ini mengajarkan bahwa keselamatan tidak hanya ada pada agama Islam, tetapi juga pada agama-agama selain Islam. Secara khusus, dalam kaitan fiqih lintas agama ini, teologi ini mengajarkan bahwa Islam-Yahudi-Kristen adalah satu agama, yakni millah Ibrahim. Segala yang berlaku halal dalam Islam bisa diberlakukan halal juga untuk penganut Yahudi dan Kristen (Fiqih Lintas Agama, bagian pertama).

Pandangan ini jelas salah. Sebab jika mereka hendak mengutip istilah al-Qur`an semisal millah Ibrahim, mereka harus mengutip juga ayat-ayat yang menjelaskannya. Dari delapan ayat yang menjelaskan millah Ibrahim dalam al-Qur`an (QS. Al-Baqarah [2] : 135. Ali ‘Imran [3] : 67, 95. Al-An’am [6] : 79, 161. An-Nahl [16] : 120, 123) bisa diketahui bahwa millah Ibrahim adalah hanif, muslim, dan tidak musyrik. Makna asal dari hanîf/hanaf, sebagaimana dikemukakan ar-Raghib, sama dengan janaf yakni mail; berbelok atau menyimpang. Cuma bedanya, hanîf/hanaf menyimpang dari kesesatan menuju kebenaran, sementara janaf menyimpang dari kebenaran menuju kesesatan (rujuk QS. al-Baqarah [2] : 182). Sementara muslim adalah ketundukan dan kepasrahan hanya kepada Allah swt, dan bukan kepada selain Allah swt. Semua Nabi dibekali ajaran ini, sehingga konsekuensinya semua Nabi harus diakui sebagai utusan Allah swt (QS. Ali ‘Imran [3] : 83-85; an-Nisa` [4] : 150-151). Kriteria ketiga, tidak musyrik; menyekutukan Tuhan, mempertegas dua kriteria sebelumnya. Yakni bahwa hanif itu adalah menjauhi syirik menuju tauhid; bahwa muslim itu adalah ketundukan hanya kepada Allah swt semata tanpa menyekutukannya. Yahudi dan Kristen jelas jauh dari ketiga kriteria di atas, maka dari itu al-Qur`an menyebut mereka sebagai kafir yang akan kekal di neraka (QS. al-Bayyinah [98] : 6).

Natal Bersama

Sesuatu yang sangat mudah sekali ditemukan dalam kehidupan masyarakat muslim Indonesia adalah adanya peringatan Natal Bersama. Maksudnya kaum muslimin, khususnya tokoh-tokoh muslim, yang ikut merayakan Natal bersama-sama dengan penganut Kristen. Hari ini modus serupa berlaku juga untuk peringatan Waisak (Budha), Nyepi (Hindu), dan Imlek plus Cap Go Meh (Cina/Kong Hu Cu). Tidak tanggung-tanggung, yang memberikan teladan adalah Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR, DPR, dan para pejabat lainnya dari mulai tingkat pusat sampai daerah. Media-media pun ramai memberitakan peringatan tersebut dan memberikannya image sebagai peringatan yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan kepada sesama. Ini menunjukkan kesuksesan program liberalisasi hukum Islam dalam kaitan yang satu ini.

Uniknya, tidak ada dalil naqli (al-Qur`an dan hadits) yang dijadikan sandaran bolehnya perayaan Natal Bersama ini. Yang ada hanya dalil ‘aqli bahwa ini sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan kesetaraan. Atau bahwa turut merayakan Natal ini juga sudah diberikan teladannya oleh Yaser Arafat Pemimpin Perjuangan Palestina, Amien Rais mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah dan Gus Dur mantan Rais ‘Am PBNU.

Sebagian tokoh, seperti Din Syamsudin, Ketua Umum PP. Muhammadiyah, pernah mengemukakan wacana pada tahun 2009 bahwa turut merayakan atau sebatas mengucapkan selamat Natal hanyalah sebentuk seremonial saja dan bukan ritual keagamaan. Perayaan bersama seperti ini hanya sebagai perayaan kebudayaan, bukan perayaan keagamaan.

Dalih-dalih di atas jelas tidak bisa dibenarkan, karena walau bagaimanapun merayakan Natal erat kaitannya dengan aqidah dan ibadah. Dalam merayakan Natal terkandung aqidah bahwa Yesus putra Allah turun ke dunia sebagai juru keselamatan yang mengorbankan dirinya di tiang salib demi menghapus dosa-dosa manusia. Merayakan, memperingati atau sebatas mengucapkan selamat Natalnya pun dengan sendirinya bagian dari ketundukan yang didasari keyakinan tersebut (ibadah). Hal yang sama juga berlaku dalam perayaan Waisak, Nyepi, Galungan, Imlek dan Cap Go Meh. Kenapa ritual-ritual tersebut dirayakan? Jawabannya pasti terkait dengan aqidah/keyakinan dan sebagai bentuk kepatuhan atas keyakinan yang dianut tersebut (ibadah). Jika tidak ada aqidah dan ibadah/ritual, tidak mungkin ada perayaan-perayaan keagamaan tersebut.

Dalam hal ini, rambu-rambu dari al-Qur`an sudah sangat jelas:

Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun [109] : 1-6)

Ayat ini terang sekali mengajarkan umat Islam untuk tidak terbawa pada peribadatan dan perayaan keagamaan orang-orang kafir. Demikian juga, peribadatan dan perayaan keagamaan Islam jangan diikuti oleh orang-orang kafir. Ikut serta dalam perayaan keagamaan orang kafir hanyalah sebentuk pencampuran haq dan bathil; mencampurkan keyakinan bahwa Yesus Nabi Allah yang mengajarkan tauhid dan bukan putra Allah yang mati di tiang salib, dengan keyakinan bahwa Yesus putra Allah yang mati di tiang salib dan kemudian berstatus sebagai Tuhan di samping Allah. Padahal Allah swt sudah berfirman:

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 42)

Ketika Nabi saw datang ke Madinah dan mengetahui ada perayaan/ritual yang tidak diajarkan Islam, maka Nabi saw melarangnya dan hanya mengizinkan perayaan ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللهِ r الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ. قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ r: إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Dari Anas, ia berkata: Ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, penduduknya mempunyai dua hari yang biasa dirayakan. Tanya Rasul saw: “Ada apa dengan dua hari itu?” Mereka menjawab: “Kami sudah biasa merayakannya sejak zaman jahiliyyah.” Sabda Rasul saw: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu hari Adlha dan hari Fithri.” (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab shalat al-’idain no. 1136 dan Sunan an-Nasa`i kitab shalat al-’idain no. 1567)

Demikian juga, ketika ada shahabat yang memohon izin untuk menyembelih sembelihan di suatu tempat, Nabi saw sangat teliti mempertanyakan dulu apakah ada keterkaitannya dengan perayaan di luar Islam. Jika ada keterkaitan dengan perayaan di luar Islam, maka ini adalah maksiat kepada Allah swt:

عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ قَالَ: نَذَرَ رَجُلٌ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ r أَنْ يَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ فَأَتَى النَّبِىَّ r فَقَالَ: إِنِّى نَذَرْتُ أَنْ أَنْحَرَ إِبِلاً بِبُوَانَةَ. فَقَالَ النَّبِىُّ r: هَلْ كَانَ فِيهَا وَثَنٌ مِنْ أَوْثَانِ الْجَاهِلِيَّةِ يُعْبَدُ. قَالُوا: لاَ. قَالَ: هَلْ كَانَ فِيهَا عِيدٌ مِنْ أَعْيَادِهِمْ. قَالُوا: لاَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: أَوْفِ بِنَذْرِكَ فَإِنَّهُ لاَ وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلاَ فِيمَا لاَ يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ.

Dari Tsabit ibn Adh Dhahhak ia berkata, seorang laki-laki bernadzar pada zaman Rasulullah saw untuk menyembelih unta di Buwanah. Kemudian ia datang kepada Nabi saw dan berkata: “Sesungguhnya saya telah bernadzar untuk menyembelih unta di Buwanah.” Kemudian saw bertanya: “Apakah di sana terdapat berhala di antara berhala-berhala Jahiliyyah yang disembah?” Mereka berkata: “Tidak.” Beliau bertanya: “Apakah di sana terdapat perayaan Jahiliyyah?” Mereka berkata: “Tidak.” Rasulullah saw bersabda: “Penuhi nadzarmu, sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam perkara yang anak Adam tidak mampu memenuhinya.” (Sunan Abi Dawud kitab al-aiman wan-nudzur bab ma yu`maru bihi minal-wafa bin-nadzri no. 3315. Al-Albani menilainya shahih)

Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru

Hal lain yang masuk wilayah Fiqih Lintas Agama adalah mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru. Sama seperti persoalan sebelumnya, guna meneliti apakah ada muatan aqidah/ibadahnya dalam hal ini ataukah tidak, harus dipertanyakan terlebih dahulu: Kenapa harus mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru? Dalam Islam jelas tidak diajarkan. Natal dan Tahun Baru adalah ajaran di luar Islam. Islam tidak memandangnya sebagai sesuatu yang istimewa sehingga layak diberikan kata “Selamat”. Natal dan Tahun Baru dianggap sebagai sesuatu yang istimewa hanya oleh keyakinan di luar Islam. Dengan kata lain aqidah non-Islam. Jika umat Islam turut mengucapkannya berarti turut meyakini adanya keistimewaan (aqidah) dalam Natal dan Tahun Baru tersebut. QS. Al-Kafirun [109] : 1-6 dan al-Baqarah [2] : 42 di atas sudah jelas melarang umat Islam turut pada aqidah dan peribadatan orang-orang kafir.

Terlebih kalau diperhatikan hadits Nabi saw yang hanya mengajarkan perayaan ‘Idul-Fithri dan ‘Idul-Adlha di atas. Sebelumnya Nabi saw tegas melarang perayaan dua hari yang biasa dirayakan pada masa Jahiliyyah. Menurut Imam al-‘Azhim Abadi, dua hari tersebut adalah hari Nairuz dan Mihrajan. Hari Nairuz adalah hari pertama dalam perhitungan tahun bangsa Arab yang diukurkan ketika matahari berada pada pada titik bintang haml/aries. Bulan Nairuz dalam perhitungan tahun matahari versi bangsa Arab sama dengan bulan Muharram dalam tahun hijriah. Merayakan hari Nairuz artinya merayakan tahun baru. Sementara hari Mihrajan adalah hari pertengahan tahun, tepatnya ketika matahari berada pada titik bintang mizan/gemini di awal musim semi, pertengahan antara musim dingin dan panas (‘Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, 3 : 88). Artinya, Nabi saw tidak merestui perayaan Tahun Baru. Mengucapkan selamat Tahun Baru pun otomatis tidak direstui oleh Nabi saw, karena termasuk keyakinan/budaya Jahiliyyah.

Masuk dalam hal ini perayaan dan mengucapkan selamat Tahun Baru untuk Tahun Baru Hijriah yang diyakini sebagai Tahun Baru Islam. Ini adalah sebentuk tasyabbuh (menjiplak/mengekor ritual) kepada umat non-Islam, yang sudah diperingatkan Nabi saw:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia bagian dari mereka (Sunan Abi Dawud bab fi labsi asy-syuhrah no. 4031).

Maksudnya, kalau kita merayakan atau mengucapkan selamat Tahun Baru Hijriah, berarti kita bagian dari umat Kristen, bukan bagian dari umat Nabi saw, sebab sudah serupa dengan umat Kristen, dan tidak serupa dengan Nabi saw.

Mengucapkan “selamat” itu sendiri berarti mengucapkan salam (keselamatan). Nabi saw dalam hal ini sudah melarang umat Islam untuk mengucapkan salam kepada non-Muslim:

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Kristen. Jika kalian bertemu salah seorang di antara mereka pada satu jalan, seretlah mereka pada tempat yang sempit (Shahih Muslim kitab as-salam bab an-nahy ‘an ibtida`i ahlil-kitab bis-salam no. 5789. Hadits ini juga menjadi ajaran bahwa orang Islam dan orang kafir tidak bisa disamakan dalam hal tempat di jalan ataupun lainnya. Orang Islam harus selalu yang paling depan dan menempati tempat yang utama).

Akan tetapi, dalam konteks mengucapkan salam ini, kalangan Muslim Liberal ternyata menggunakan dalil-dalil naqli yang disertai nalar aqli dari mereka, yaitu: Pertama, hadits yang melarang mendahului mengucapkan salam hanya ditujukan kepada Yahudi dan Kristen yang memusuhi. Itu terbukti dengan keterangan hadits lain yang menginformasikan salam dari orang kafir yang justru mendo’akan kematian. Kedua, dari hadits tersebut pula tergambar sikap Nabi saw yang menegur sikap ‘Aisyah yang kasar kepada non-Muslim. Semestinya sebagaimana dicontohkan Nabi saw, bersikap lembut dan santun. Dari sini maka dipahami bahwa sebagai bentuk kesantunan boleh mengucapkan salam kepada non-Muslim. Ketiga, dalam hadits riwayat al-Bukhari yang lain disebutkan bahwa Islam yang baik itu adalah mengucapkan salam kepada yang dikenal atau yang tidak dikenal. Masuk dalam kategori yang tidak dikenal ini orang-orang non-Muslim. Keempat, dalam surat Nabi saw kepada Najasyi (Raja) Habasyah tertulis dengan jelas salam Nabi saw untuk Najasyi yang notabene masih Kristen. Artinya bagi non-Muslim yang tidak memusuhi seperti Najasyi, boleh mengucapkan salam. Kelima, dalam suatu kesempatan yang Nabi saw tahu ada orang-orang non-Muslim, Nabi saw sengaja mengucapkan salam kepada mereka. Keenam, dalam hadits lain Nabi saw mengajarkan agar kita membalas salam dari Ahli Kitab. Artinya boleh mengucapkan/mendo’akan selamat untuk non-Muslim. Ketujuh, Islam itu adalah agama keselamatan, maka menebarkan keselamatan (salam) kepada setiap orang sudah semestinya dilakukan oleh umat Islam (Fiqih Lintas Agama, hlm. 66-78).

Ketujuh argumentasi mereka di atas, sebenarnya adalah argumentasi yang dibuat-buat, bukan argumentasi yang benar-benar kuat. Berikut rinciannya:

Pertama, tidak ada pembatasan dari hadits riwayat Imam Muslim di atas bahwa larangan mengucapkan salam kepada orang kafir itu hanya kepada orang kafir yang memusuhi Islam. Maka dari itu, maknanya pun jangan dibatasi (muqayyad), harus tetap tidak terbatas (muthlaq). Keterangan bahwa ada orang Yahudi yang mengucapkan salam kematian untuk Nabi saw, ini berbeda latar dan konteksnya, sehingga tidak bisa menjadi pembatas (taqyid) bahwa larangan tersebut berlaku disebabkan Yahudi saat itu sangat memusuhi Nabi saw. Terlebih jika diperhatikan QS. al-Ma`idah [5] : 82 yang menerangkan bahwa orang-orang Kristen begitu simpati kepada umat Islam, jauh dari permusuhan. Tetapi Nabi saw dalam hadits di atas tetap melarang umat Islam mengucapkan salam kepada orang Kristen meski mereka tidak memusuhi umat Islam saat itu.

Kedua, hadits ‘Aisyah yang mereka maksud, lengkapnya sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْيَهُودَ دَخَلُوا عَلَى النَّبِيِّ r فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ فَلَعَنْتُهُمْ فَقَالَ مَا لَكِ قُلْتُ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ فَلَمْ تَسْمَعِي مَا قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

Dari ‘Aisyah ra: Ada orang Yahudi masuk menemui Nabi saw lalu berkata: “as-Sam (kematian) untukmu.” Lalu aku melaknat mereka. Nabi saw bertanya: “Ada apa denganmu?” Aku jawab: “Tidakkah anda dengar apa yang mereka ucapkan?” Nabi saw menjawab: “Tidakkah kamu dengar apa yang aku ucapkan: ‘Untuk kamu.” (Shahih al-Bukhari kitab al-jihad bab ad-du’a ‘alal-musyrikin no. 2935)

Hadits ini hanya melarang mengumbar laknat. Tetapi dibenarkan untuk mengembalikan ‘salam kematian’ itu untuk orang Yahudi. Islam memang mengajarkan kesantunan, tetapi kesantunan yang tetap sesuai ajaran Islam, seperti santun dalam berkata, tidak mencaci, tidak menghina, dan sebagainya. Sementara mengucapkan salam/selamat kepada orang kafir bukan bagian dari kesantunan, tetapi kebodohan, sebab Nabi saw sudah jelas-jelas melarangnya.

Ketiga, Islam memang mengajarkan untuk menebarkan salam kepada siapa saja termasuk yang tidak dikenal, berdasarkan hadits berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ r أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari ‘Abdullah ibn ‘Amr: Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw: “Islam yang bagaimana yang paling baik itu?” Nabi saw menjawab: “Memberi makan dan mengucapkan salam kepada yang kamu kenal dan yang kamu tidak kenal.” (Shahih al-Bukhari kitab al-iman bab ifsya`us-salam minal-Islam no. 28)

Hadits di atas tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya. Hadits di atas sebatas mengajarkan mengucapkan salam kepada yang dikenal atau tidak dikenal. Tetapi kalau sudah betul-betul kenal bahwa orang yang hendak diberi salam itu Yahudi atau Kristen, maka tidak boleh, haram. Jadi keumuman hadits ini dibatasi dengan larangan Nabi saw di atas. Mengucapkan salam dalam hadits ini tidak berlaku bagi yang dilarang Nabi saw dalam hadits di atas, yakni Yahudi dan Kristen.

Keempat, Nabi saw mengucapkan salam kepada Najasyi Habasyah pada suratnya yang dibawa oleh Ja’far ibn Abi Thalib, didasari keyakinan bahwa Najasyi penganut Islam yang dibawa oleh Nabi ‘Isa as. Maka dari itu, sesaat sesudah Najasyi menerima surat tersebut, ia langsung mengucapkan syahadat la ilaha illal-‘Llah dan muhammad Rasulullah (al-Bidayah wan-Nihayah 3 : 104-105). Sebab orang yang beriman kepada Nabi ‘Isa as ada dalam keselamatan sebelum datangnya Nabi Muhammad saw. Ketika Nabi Muhammad saw datang maka yang beriman kepada Nabi ‘Isa as harus beriman kepada Nabi Muhammad saw. Jika tidak, maka ia binasa (Tafsir Ibn Katsir S. Al-Baqarah [2] : 62, riwayat Ibn Abi Hatim). Najasyi tidak masuk dalam golongan yang binasa ini. Orang Kristen hari ini sama dengan orang Kristen di zaman Nabi saw yang tidak seperti Najasyi dan tidak mau masuk Islam sesudah tahu Nabi Muhammad saw diutus. Maka terhadap orang Kristen seperti itu, larangan Nabi saw di atas tetap berlaku.

Kelima, Nabi saw memang pernah mengucapkan salam pada satu kelompok yang bercampur baur antara orang Islam dan orang kafir.

قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ r… مَرَّ فِي مَجْلِسٍ فِيهِ أَخْلَاطٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُشْرِكِينَ عَبَدَةِ الْأَوْثَانِ وَالْيَهُودِ وَفِيهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ابْنُ سَلُولَ وَفِي الْمَجْلِسِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَلَمَّا غَشِيَتْ الْمَجْلِسَ عَجَاجَةُ الدَّابَّةِ خَمَّرَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ أَنْفَهُ بِرِدَائِهِ ثُمَّ قَالَ لَا تُغَبِّرُوا عَلَيْنَا فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ النَّبِيُّ r…

Usamah ibn Zaid berkata, bahwasanya Nabi saw… pernah lewat pada satu majelis yang bercampur padanya kaum muslimin, musyrikin penyebah berhala, dan Yahudi. Di antara mereka ada ‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan ‘Abdullah ibn Rawahah. Tatkala debu dari binatang memenuhi majelis, ‘Abdullah ibn Ubay menutup hidungnya dengan sorbannya sambil berkata: Hai kamu (binatang) jangan memberikan debu kepada kami. Lalu Nabi saw mengucapkan salam kepada mereka… (Shahih al-Bukhari kitab al-isti`dzan bab at-taslim fi majlis fihi akhlath minal-muslimin wal-musyrikin no. 6254).

Akan tetapi maksud hadits ini jangan diselewengkan menjadi boleh mengucapkan salam kepada non-muslim. Yang dibolehkan hadits ini mengucapkan salam kepada satu kelompok yang di sana berbaur antara orang Islam dan orang kafir. Jika dikaitkan dengan hadits di atas, maka tentu yang dituju salam oleh Nabi saw di sini adalah orang Islam. Cuma kebetulan di sana ada orang-orang kafir.

Keenam, sebuah hadits memang mengajarkan kita untuk membalas salam orang kafir, yaitu:

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: مَرَّ يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللهِ r فَقَالَ السَّامُ عَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r وَعَلَيْكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r أَتَدْرُونَ مَا يَقُولُ قَالَ السَّامُ عَلَيْكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَقْتُلُهُ قَالَ لَا إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Anas ibn Malik berkata: Seorang Yahudi lewat di hadapan Rasulullah saw lalu mengucapkan: “as-Sam ‘alaikum (kematian untukmu).” Rasululllah saw menjawab: “Wa ‘alaika (untukmu).” Lalu Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian apa yang ia ucapkan? Ia mengucapkan ‘as-sam ‘alaika’. Para shahabat berkata: “Bolehkah kami membunuhnya.” Jawab Nabi saw: “Jangan. Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian maka balaslah: wa ‘alaikum.” (Shahih al-Bukhari kitab istitabatil-murtaddin bab idza ‘arradladz-dzimmiyyu wa ghairuhu bi sabbin-Nabi no. 6926)

Maksud hadits ini tidak bertentangan dengan hadits di atas. Hadits di atas melarang mendahului mengucapkan salam, hadits ini sebatas membolehkan membalasnya. Di samping itu, balasan yang dibolehkan itu hanya “wa ‘alaika; untuk kamu”. Artinya mengembalikannya kepada yang mengucapkan, dan tidak menerimanya, atau dengan kata lain menolaknya. Bukan mendo’akan keselamatan atau mengucapkan salam balik. Sebab jika itu salam balik, maka kalimatnya “wa ‘alaikumus-salam.” Tetapi Nabi saw tidak mengucapkan salam, hanya wa ‘alaika/’alaikum saja. Jawaban ini sama dengan jawaban untuk yang mendo’akan kematian untuk Nabi saw dalam hadits di atas, lalu Nabi saw menolaknya dan mengembalikannya dengan ucapan “wa ‘alaika”. Meskipun memang ada ulama—seperti Syaikh al-‘Utsamin dalam Syarah Riyadlus-Shalihin kitab as-salam—yang membenarkan menjawab salam orang kafir. Tetapi tetap, itu hanya menjawab saja, tidak boleh mendahului mengucapkan salam/selamat.

Ketujuh, Islam jelas agama keselamatan, sebab tidak ada keselmatan di luar agama Islam. Maka dari itu, umat Islam tidak perlu mubadzir kata-kata mendo’akan atau mengucapkan salam/selamat kepada orang kafir, sebab walau bagaimanapun mereka tidak akan selamat. Keselamatan Islam disebarkan dengan da’wah, bukan dengan bahasa kamuflase mengucapkan selamat kepada orang kafir.

Do’a Bersama Lintas Agama

Hal lain yang dikampanyekan oleh kalangan Muslim liberal adalah bolehnya do’a bersama lintas agama, sebab semuanya sama-sama berdo’a kepada Tuhan yang sama. Menurut mereka, do’a bersama ini ada beberapa model. Pertama, do’a yang dilakukan ketika para pengikut dari suatu kelompok keagamaan atau anggota manapun dari kelompok itu berdo’a untuk orang-orang yang menjadi anggota komunitas iman atau agama lain. Kedua, do’a ketika seorang individu atau suatu kelompok keagamaan meminta do’a untuknya atau untuk mereka sendiri dari orang-orang lain yang bukan dari iman yang sama atau agama yang sama. Ketiga, do’a yang dilakukan ketika pada suatu peristiwa yang dihadiri oleh para penganut agama-agama yang berbeda, satu orang memimpin mereka semua dalam melakukan do’a itu. Keempat, do’a pada suatu peristiwa atau pertemuan yang dipimpin oleh para wakil dari masing-masing agama yang para anggotanya hadir dalam pertemuan itu dengan cara mereka masing-masing.

Bagi kalangan Muslim liberal, larangan do’a untuk orang kafir, baik dalam al-Qur`an ataupun hadits maksudnya larangan mendo’akan ampunan. Itupun ditujukan kepada orang musyrik dan munafiq. Sementara mendo’akan kemaslahatan dunia tidak termasuk dalam larangan tersebut. Terlebih faktanya, menurut mereka, tidak semua orang non-Muslim itu munafiq dan musyrik. Ada di antara non-Muslim itu yang bertauhid dan bersahabat dengan Nabi saw, seperti Raja Negus (Najasyi) dan Abu Thalib. Sementara itu, Nabi saw juga pernah mendo’akan ‘Umar ibn al-Khaththab dan atau Abu Jahal yang kafir sewaktu masih di Makkah. Demikian juga penduduk Tha`if yang masih kafir di masa-masa akhir periode Makkah. Ini semua jadi dalil bolehnya do’a bersama lintas agama.

Yang benar, do’a itu bagian dari ibadah, baik itu do’a memohon ampunan atau kemaslahatan di dunia, sebab merupakan ketundukan kepada Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan, dan tidak tuhan lain selain Dia. Nabi saw sudah menegaskan:

Dari an-Nu’man ibn Basyir, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Berdo’a itu adalah ibadah.” Kemudian beliau membaca ayat: Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah (berdo’a)-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Sunan at-Tirmidzi kitab ad-da’awat bab fadlid-du’a no. 3372 (al-Albani: Shahih). Ayat yang dibaca Nabi saw adalah QS. Ghafir [40] : 60).

Dengan demikian, maka QS. Al-Kafirun [109] : 1-6 dan al-Baqarah [2] : 42 sudah cukup untuk dijadikan dalil terlarangnya praktik do’a bersama lintas agama. Sebab orang Islam tidak boleh beribadah (berdo’a) kepada yang orang-orang kafir sembah, dan mereka pun tidak boleh beribadah (berdo’a) kepada yang orang Islam sembah.

Perihal do’a Nabi saw untuk Najasyi dari Habasyah, sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, itu disebabkan Najasyi seorang muslim, baik dari sejak eranya Nabi ‘Isa sampai eranya Nabi Muhammad saw. Maka dari itu Nabi saw juga menshalatkan ghaib untuk Najasyi ketika ia meninggal, di samping memohonkan ampun untuknya.

Sementara Abu Thalib, meski dekat dengan Nabi saw, Allah swt tetap melarang Nabi saw mendo’akannya, sama dengan larangan kepada Nabi saw untuk mendo’akan ibunya, Aminah.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ r فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ r يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ

Dari Sa’id ibnil-Musayyab, dari bapaknya, ia berkata: Menjelang kematian Abu Thalib, Rasululllah saw mendatanginya. Ternyata di sana ada Abu Jahal dan ‘Abdullah ibn Abi Umayyah ibn al-Mughirah. Rasul saw berkata: “Wahai Pamanku, ucapkanlah la ilaha illal-‘Llah; sebuah kalimat yang akan aku jadikan pembelaan untukmu di sisi Allah.” Abu Jahal dan ‘Abdullah langsung berkata: “Apakah kamu berani meninggalkan millah ‘Abdul-Muththalib?” Rasul saw lalu terus memohon dan kedua tokoh Quraisy itu pun terus memberikan bantahan. Sehingga akhir perkataan Abu Thalib ada pada millah ‘Abdul-Muththalib dan ia enggan mengucapkan la ilaha illal-‘Llah. Rasul saw lalu bersabda: “Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama tidak dilarang.” Maka Allah menurunkan ayat: “Tidak semestinya Nabi dan orang-orang beriman memohonkan ampun untuk orang musyrik….” (Shahih al-Bukhari kitab tafsir al-Qur`an bab qaulihi ta’ala innaka la tahdi man ahbabta no. 4675; Shahih Muslim kitab al-iman bab awwalil-iman qaul la ilaha illal-‘Llah no. 141)

Lebih lengkapnya, bunyi QS. at-Taubah [9] : 113 tersebut adalah:

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.

Ayat ini, asbabun-nuzul-nya tidak hanya pada kasus Abu Thalib saja, tetapi juga ibu Nabi Muhammad saw dan ayah dari seorang shahabat. Tepatnya ketika Nabi saw memohon ampunan untuk ibunya, Aminah, ketika Nabi saw menziarahi kuburannya di Madinah. Dan ketika pertanyaan seorang shahabat tentang kebolehan mendo’akan ayahnya yang musyrik, lalu Nabi saw menjawab bahwasanya beliau juga akan mendo’akan untuk ayahnya, Abdullah, sebagaimana Ibrahim mendo’akan ayahnya. Akan tetapi semuanya dilarang oleh Allah swt (Tafsir Ibn Katsir QS. at-Taubah [9] : 113. Dari ketiga riwayat ini, para ulama ada yang menyimpulkan bahwa ayat dalam surat at-Taubah di atas diturunkan tiga kali).

Di samping ayat di atas, larangan mendo’akan orang kafir juga tertera dalam ayat-ayat berikut:

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS. at-Taubah [9] : 80).

Dan janganlah kamu sekali-kali men-shalat-kan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik (QS. at-Taubah [9] : 84).

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. al-Munafiqun [63] : 6).

Do’a Nabi saw untuk Abu Jahal dan ‘Umar ibn Khaththab sewaktu masih kafir, juga untuk penduduk Tha`if, itu adalah do’a untuk agama Islamnya, atau do’a memohonkan hidayah untuk orang-orang yang belum menerima hidayah. Untuk kasus ini memang dibolehkan. Sementara mendo’akan agar orang-orang yang tetap dalam kekafiran agar diselamatkan meski mereka tetap dalam kekafiran, ini tidak termasuk pengecualian tersebut. Selain yang dikhususkan ini maka tercakup dalam larangan QS. al-Kafirun [109] : 1-6, at-Taubah [9] : 80, 84, 113-114, dan al-Munafiqun [63] : 6.

MUI dalam hal ini pernah mengeluarkan fatwa terkait do’a bersama pada tahun 2005, yang berbunyi:

    Do’a bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non-muslim tidak dikenal dalam Islam. Oleh karenanya, termasuk bid’ah.
    Do’a Bersama dalam bentuk “Setiap pemuka agama berdo’a secara bergiliran” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamini do’a yang dipimpin oleh non-muslim.
    Do’a Bersama dalam bentuk “Muslim dan nonmuslim berdo’a secara serentak” (misalnya mereka membaca teks do’a bersama-sama) hukumnya HARAM.
    Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang non-Islam memimpin do’a” maka orang Islam HARAM mengikuti dan mengamininya.
    Do’a Bersama dalam bentuk “Seorang tokoh Islam memimpin do’a” hukumnya MUBAH.
    Do’a dalam bentuk “Setiap orang berdo’a menurut agama masing-masing” hukumnya MUBAH.

Wal-‘Llahu a’lam bis-shawab

Posted in: Islam