Nikah Misyar

Posted on 21.02.2015

0


Disadur dari rumahfiqih.com

PENGERTIAN

Secara Bahasa

Secara bahasa, Misyar berasal dari kata kerja yang artinya berjalan. Kata misyar itu sendiri diambil dari kata kerja itu dalam bentuk redaksi Hiperbol, dalam bahasa Arab disebut dengan “Shigoh Al-Mubalaghoh”. Yang berarti misyar ialah sering berjalan, banyak berjalan dan sejenisnya

Disebut demikian, karena memang si laki-laki dalam pernikahan ini tidak menetap bersama si istri. Tapi justru dia lebih banyak di luar, dan bahkan hampir tidak pernah bersama istri, selalu saja berpergian.

Secara istilah

Saya rasa sebagian besar pembaca belum pernah dengar istilah ini, dan kalaupun ada yang pernah mendengar tentu jumlahnya sedikit sekali. Karena Nikah Misyar itu sendiri pun bukan jenis pernikahan yang popular, apalagi di kalangan orang Indonesia.

Ya. Nikah Misyar adalah jenis baru dari pernikahan yang belakang mulai kelihatan perkembangannya. Bukan di Indonesia, tapi di negeri Teluk sana; Jazirah Arab dan sekitarnya. Walaupun memang kita tidak bisa menutup mata bahwa gaya baru nikah semacam ini juga berkembang di Indonesia meski jumlahnya hanya sekitar 0,sekian persen saja. Artinya tidak terlalu luas.

Nikah Misyar ialah pernikahan yang dibangun di atas akad yang sah secara syariah, terpenuhi segala rukun dan persyaratan pernikahan yang syar’i. Hanya saja pihak Wanita yaitu Istri, ia dengan IKHLAS dan RELA serta RIDHA hak-haknya sebagai Istri tidak dipenuhi oleh si suami, seperti tempat tinggal, nafkah, pembagian hari.

Pernikahan tersebut sah secara agama, syariat mengakui adanya pernikahan tersebut. Hanya saja dalam prakteknya sang istri rela ditinggalkan begitu saja. Ia tidak diberi tempat tinggal oleh sang suami, dan juga diabaikan nafkahnya.

Artinya sang suami boleh dengan leluasa keluar kemudian kembali lagi ke rumah sang istri jika ia mau berhubungan, kalaupun ingin di luar terus yaa tak masalah juga. Toh mereka berdua sah sebagai suami istri, terlebih bahwa si istri telah Rela hak-haknya tidak dipenuhi. Dan hubungan yang mereka lakukan sah secara syar’i dan bukan perzinahan.

FAKTOR-FAKTOR BERKEMBANGNYA JENIS NIKAH INI

Salah satu faktor utama berkembangnya jenis pernikahan ini ialah tingginya jumlah wanita tua tak bersuami di negeri Teluk sana, atau bisa kita bilang tingginya jumlah Perawan Tua. Tak ingin menjadi perawan sepanjang hayat, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah saja walaupun tak terpenuhi hak-hak mereka sebagai istri. Dan mereka tidak memilih-milih siapa yang akan jadi suami mereka, Yang penting status “menikah” itu mereka dapat.

Dan faktor utama yang menyebabkan tingginya angka “Perawan Tua” di negeri-negeri Teluk sana ialah tingginya biaya pernikahan yang mereka pasang kepada para calon pelamar mereka. Terlebih mereka wanita yang tinggal di perkotaan. Tentu bukan dari mereka, tapi dari para keluarga si wanita itu yang banyak menginginkan ini itu dan mensyaratkan ini itu. Dan ini memang kebiasaan yang pati terjadi di negeri-negeri sekitar semenanjung jazirah tersebut.

Karena inilah para pemuda Teluk itu menjadi antipati akan pernikahan itu sendiri dan akhirnya memilih perempuan pedesaan untuk menjadi pendamping mereka karena mudah didapat dan juga murah biayanya. Tinggallah para wanita Kota namun malang itu menjadi sendiri, tak tahu sampai kapan ia harus menunggu sang “Milyarder” datang untuk melamar.

Waktu terus berjalan, sang perawan kaya pun tak jua menemui sang Milyarder yang akhirnya bertumpuklah jumlah perawan tua di negeri tersebut. Takut didahului oleh sang kematian, dan tak ingin meninggalkan dunia ini dengan status “Perawan”, akhirnya membuat para wanita mapan itu membuka pintu selebar-lebar untuk siapa saja yang datang tanpa syarat. Maklum di negeri-negeri tersebut masih memegang kuat budaya dan syariat bahwa “seburuk-buruk mayat ialah mayatnya perawan/perjaka”.

Itu dari satu sisi, sisi lain yang menyebabkan Nikah Misyar ini berkembang juga banyak, di antaranya ialah keinginan tersalurkannya hasrat Biologis mereka. Ini berlaku baik bagi laki atau juga wanita, baik itu perawan/perjaka atau pun duda/janda. Atau juga mereka yang sudah mempunyai pasangan namun merasa kurang cukup dan tak mampu, akhirnya mereka memilih pasangan yang di-Misyar-kan. Yang penting hubungan mereka bukanlah hubungan yang haram.

Ya faktor yang terakhir disebutkan tadi itu menurut saya lebih baik dibanding mereka harus berzina. Yang sudah pasti itu haram dan buruk sekali bagi kesehatan. Tentu nikah Misyar ini tidak juga berarti baik sepenuhnya, banyak hal-hal yang kurang positif yang terjadi dalam nikah misyar itu sendiri, salah satunya ialah terabaikannya tujuan pernikahan itu sendiri sebagaimana yang telah banyak dijelaskan oleh Ulama.

FENOMENA PERNIKAHAN DI NEGERI TELUK

Sebelum kita mengetahui apa kata ulama tentang nikah jenis ini, saya ingin mengajak Anda untuk sama-sama tahu tentang fakta yang terjadi di Negeri Teluk sana tentang pernikahan. Sekitar tahun 2008 silam, seorang aktivis social; Ahmad Al-Shughairi dalam sebuah acara yang dipandu serta produserinya sendiri, ia bersama tim melakukan peliputan yang lebih mirip seperti investigasi.

Ini dilakukan setelah adanya survey yang menunjukkan menurunnya tingkat pernikahan di negeri tersebut ketika itu yakni Jazirah Arab dan negeri-negeri sekitarnya. Dan hasilnya ya memang biaya yang sangat mahal, dan biaya itu bukanlah biaya wajib dari kerajaan setempat, akan tetapi biaya itu muncul dari pihak keluarga wanita yang banyak syarat ini itu. Orang-orang menyebut Persyaratan-persyaratan itu dengan sebutan “Al-Kalaaki” yaitu bentuk Plural/jamak dari “Kalka”.

Sulit untuk mencari padanan kata tersebut dalam bahasa Indonesia, dan memang itu bukanlah bahasa yang mempunyai arti, tetapi itu istilah yang biasa mereka pakai untuk mengartikan persyaratan dan permintaan pihak wanita sebelum menikah. Mereka menamakannya dengan kata tersebut.

Dan Kalaaki’ inilah yang sering menjadi batu ganjalan bagi para pria-pria muda dan akhirnya mengurungkan diri untuk meminang sang pujaan hati. Kalaaki’ yang terlihat jelas ialah dari segi biaya. Banyak permintaan itulah yang akhirnya membuat biaya menjadi bengkak. Anda bisa bayangkan, dari liputan tersebut, sang pria harus mengeluarkan biaya sebesar 50 Ribu Riyal hanya untuk sebuah perhiasan yang nantinya menjadi mahar. Itu untuk perhiasan saja.

Selanjutnya sang pria juga dibebankan untuk membeli segala perabotan rumah tangga yang nantinya akan dipakai untuk kebutuhan rumah tangga mereka berdua. Seperti kasur, lemari, perabotan dapur dan sebagainya itu. Dan untuk yang ini sang pria “malang” harus mengeluarkan uang lebih kurangnya sebesar 20 sampai 38 Ribu Riyal.

Belum cukup sampai di situ, si pria juga harus menyewa gedung untuk resepsi pernikahannya nanti. Dan gedung saja tak cukup, harus ada perhiasan gedung dan juga yang tak boleh ketinggalan yaitu baju pengantin, wedding dress. Dan untuk itu semua diperlukan biaya sebesar 50 ribu sampai 65 ribu Riyal. Bayangkan!

Kalau dihitung keseluruhan, biaya pernikahan mencapai 138 ribu Riyal! Dan itu belum termasuk biaya untuk berbulan madu. beruntung kalau sang wanita tidak menuntut itu, bagaimana kalau wanita menuntut? Segala tuntutan ini sangat timpang jika dilihat dari rata-rata penghasilan yang diperoleh kebanyakan pemuda per bulannya yang berkisar antara 4 Ribu sampai 6 Ribu Riyal ketika itu. Dan hasil liputan itu semua terjadi di tahun 2008, lalu bagaimana hitungan dengan sekarang ini? Tentu semakin besar.

Ada satu lagi bentuk Kalaaki’ yang mesti ada di kebiasaan orang Teluk sana, yaitu Kalaaki’ yang berhubungan dengan Suku. Ini tak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan orang Arab sana sampai sekarang masih sangat mempertimbangkan yang namanya kesukuan dalam menerima lamaran untuk anak gadis mereka. Makin susahlah nikah yang pada dasarnya ialah perkara halal yang mudah!

Seseorang pada suku atau kabilah tertentu terkadang tidak ingin menikahkan anak gadis dengan lelaki yang bukan suku yang sama, atau bisa dengan suku dan kabilah yang berbeda namun tentu dengan berbagai syarat dan ketentuannya.

NASIHAT NABI DALAM MENENTUKAN PASANGAN

Padahal jauh-jauh hari Rasul SAW telah mewanti-wanti dan memberi kita petunjuk dalam menentukan siapa yang akan kita jadikan pendamping atau pasangan bagi anak gadis kita. Sabda Nabi SAW untuk para orang tua gadis atau walinya:

“Jika seorang laki-laki datang kepada mu (untuk melamar anak gadismu), dan kalian Ridha (senang) akan AGAMANYA dan AKHLAKNYA, maka nikahilah dia! Jika kau tidak menikahinya, niscaya akan muncul FITNAH dan KERUSAKAN di dunia” (HR Tirmidzi)

Lihat bagaimana Nabi SAW memberi kita nasihat tentang bagaimana harusnya. Yang menjadi standarisasi dan patokan ialah AGAMA dan AKHLAK, bukan harta, bukan juga suku. Dan perhatikanlah ancaman yang akan kita tanggung jika nasihat itu kita abaikan; FITNAH dan KERUSAKAN di bumi. Dan ini sudah terjadi.

Mempersulit jalan pernikahan berarti membuka pintu keburukan selebar-lebarnya. Dan ini yang juga terjadi di Indonesia. Banyak perempuan yang melahirkan di luar nikah, perzinahan yang semakin marak terjadi, baik yang secara sembunyi atau juga yang terang-terangan dan kemudian direkam lalu disebar melalui dunia maya.

Yang tak kalah meresahkan ialah pergaulan bebas antara para remaja laki-laki dan perempuan yang sudah semakin vulgar, tak peduli lagi tata karma dan kesopanan. Bukankah ini semua fitnah dan kerusakan dalam tatanan pertanahan negeri ini? Dimana anak mudanya sudah tak peduli lagi ikatan-ikatan agama. Ini hasil jika kita terus menerus menutup pintu kebaikan yang halal dan mempersulitnya, yang dengan begitu kita membuka pintu keburukan. Na’udzdu Billahi Min Dzalik.

Yaa setidaknya, jika dibanding dengan negeri-negeri di semenanjung Jazirah sana, Kalaaki’ yang berlaku di negara kita ini masih dibilang normal dan dalam batasan yang wajar. Di negeri ini biaya pernikahan masih terbilang murah dan terjangkau. Para orang tua gadis pun tidak terlalu banyak meminta para sang pria, begitu juga sang calon mempelai wanita yang tidak banyak minta ini-itu kecuali memang yang wajar diminta oleh kebanyakan wanita.

HUKUM NIKAH MISYAR

Seperti yang telah digambarkan diatas tadi, Nikah Misyar ialah : Nikah dengan akad pernikahan yang sah secara syariat, terpenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya, hanya saja sang wanita dengan sukarela dan Ridho hak-haknya sebagai Istri tidak terpenuhi, seperti nafkah, tempat tinggal, dan jatah Qosam/tinggal bila sang suami beristri lebih.

Dalam eksintensinya, seperti yang telah disebutkan tadi diartikel sebelumnya, bahwa Nikah Misyar ini ialah jenis nikah yang memang benar-benar baru dalam penerapannya, dan memang belum pernah ditemukan pada masa-masa terdahulu. Jadi tidak mungkin kita temukan pembahasannya di kitab-kitab Turots para ulama sepuh kita.

Namun bukan karena ini tidak pernah dibahas oleh Ulama-ulama terdahulu lalu kemudian ditinggalkan saja, tidak. Ulama pada zaman dimana jenis nikah ini berkembang, mereka membahas ini sampai sekarang. Dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pasti ada perbedaan dalam pengambilan hukum.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini hanya terbagi kedalam 3 kelompok pendapat saja; yaitu kelompok ulama yang membolehkan namun dengan ke’makruhan’. Yang kedua ialah Kelompok ulama yang mengharamkan. Dan kelompok ketiga ialah mereka yang “Tawaqquf”, artinya tidak mengatakan boleh dan juga tidak mengatakan tidak boleh, kalau istilah yang lebih kerennya mereka Abstain dalam masalah ini.

YANG MEMBOLEHKAN

Mereka yang membolehkan jenis pernikahan ini mengatakan bahwa nikah Misyar sama seperti nikah-nikah yang lain yang sah secara syariat; rukun-rukunnya terpenuhi, syarat-syarat ada dan tidak ada larangan dalam akad yang dilanggar dalam pernikahan ini.

Hanya saja istilahnya yang berbeda, dan pembedaan ini hanya terletak pada bahwa istri rela dan ridho bahwa hak-haknya sebagai istri tidak terpenuhi. Ia rela tidak tinggal bersama sang suami, ia juga rela bahwa suaminya tidak menafkahinya.

Dan yang namanya hak pernikahan yang dimiliki masing-masing oleh suami dan istri. Masing-masing dari kedua boleh saja menggugurkan hak-hak itu sebagaimana ia juga boleh mempertahankan hak-hak nya. Jadi kalau si istri rela dengan jenis Misyar ini ya sah-sah saja.

Toh hubungan yang mereka lakukan berdasarkan akad yang sah, jadi bukan hubungan yang haram.

Dan dalam hal pengguguran hak dari si istri untuk tidak dipenuhi bukanlah sesuatu yang baru dalam syariat. Ini telah ada contohnya pada masa Nabi Muhammad SAW. Dalam suatu kesempatan (ketika Nabi sakit), salah satu istri beliau yang bernama Saudah binti Zum’ah pernah memberikan harinya yang semestinya Nabi bersamanya dihari itu, ia rela memberikan satu hari yang tersisa itu untuk ‘Aisyah ra. (HR Bukhori dan Muslim)

Namun pernikahan seperti ini, walaupun sah secara syar’i, ini sangat tidak dianjurkan (makruh). Karena pernikahan seperti ini menghilangkan Maqosid Syariah yang ada pada syariah pernikahan itu sendiri.

YANG MENGHARAMKAN

Dan mereka yang mengharamkan jenis pernikahan ini bersandar pada beberapa hal, seperti:

1. Jenis pernikahan ini sangat jauh berbeda dengan pernikahan yang sesuai dengan aturan syariat. Dan ini adalah jenis pernikahan yang baru yang belum banyak diketahui oleh khalayak kaum Muslim.

2. Pernikahan ini terkandung didalamnya syarat-syarat yang justru mencederai akad nikah itu sendiri.

3. Pernikahan ini tidak mewujudkan Maqoshid syariah dalam pernikahan itu sendiri. Dari mulai meniadakan kewajiban tempat tinggal, nafkah, dan yang lainnya. Dan mungkin tidak juga terwujud dalam pernikahan jenis ini lahirnya anak.

4. Ini akan menjadi sebuh pintu untuk kerusakan dan pengrusakan dalam syariat nikah ini. Dengan dibolehkannya nikah seperti ini orang akan dengan seenaknnya melakukan akad namun tanpa peduli akan terwujudnya keharmonisan dalam keluarga. Dan tentu akan banyak sekali nilai-nilai negative yang akan timbul dari pernikahan sejenis ini.

Wallahu A’lam

Posted in: Islam